TABAH
Keraskan pukulan kita kawan
Pada tanah hati dan ladang jiwa anak-anak kita
Sungguh kehormatan kita
Ada pada hitam putih telapak kaki-kaki kecil mereka
Biarkan birokrasi membelah dada kita
Cemoohan matahari yang mengoyak jantung kita
Kita telah ditakdirkan ...
Untuk makan sisa uang dan nasi negara, yang recehan dan muntahannya
Mengisi perut anak-anak kita
Walaupun jika kita sesekali mengajukan interupsi dengan tengadah
Mata kita akan terbakar oleh fatamorgana
Yang disuguhkan oleh para kreditur dalam nampan bank-bank negara
Tetaplah berjalan gesit
Walau tali kredit membelit lambung kita
Cukup janji ilahi lewat lisan Nabi
"Sungguh sepaling mulia yang melata di perut bumi
Adalah para pengajar yang memiliki ikhlas sejati"
Bebunga Estate 18.10.2008
By : Gazali Rakhman
(NT 1)
Puncak qubah al Mehry ...
Melukis cinta di atas cakrawala
Merilis syair rindu dari jemari tangan yang merapat meratapi langit
Mengantar setiap doa yang mengetuk pintu singgasana Allah
Qubah emas
Melukis nuansa hati yang murni di atas cahaya
Yang konsentratnya memusat dan konvergen
Tak pernah buyar wajah dan senyum kekasih padanya
Dari lamunan yang merangkak menuju mimbar
Di sini ....
Gaung suci azzam dan tasbih dalam nama Tuhan
Tak jua mampu kalahkan doa-doa berprada cinta
Dari mulut sang pejuang waktu
Yang sejak lama menggenggam cinta dan rindu yang mengiris sisi hatinya
Yang luka-luka cemburunya siap diadukan di hadapan telapak kaki Tuhan
(Dian al Mehry 08.10.2009)
(NT 2)
Cinta ...
Membuat semua ikatan menjadi lepas merdeka
Al Istiqlal ... kemerdekaan yang menjadikan ruh berwibawa
Dan menundukan kekasaran fisik laksana budak
Di atasnya
Darah dan air mata adalah keniscayaan
Sedu sedan kerinduan adalah melodi
Tak peduli ....
Seperti syair yang terus tergurat oleh pena
Di jalur-jalur raya Jakarta
Menyeruak dari nurani lalu terkumpul dengan anggun
Di Monas .... Istiqlal .... dan museum Purna Bhakti Pertiwi
Di mata ... hati ... dan nurani ....
Wajah kekasih
Adalah mahkota kembang kemerdekaan jiwa
Yang membuat pencinta dapat berjalan mantap
Maka
Di setiap rasa dan lelakonnya ... didapati
Selalu menyenandungkan rindu.
(Istiqlal, 10.11.2009)
By : Gazali Rakhman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar